Kalamullah

Kalamullah

Sunday, June 24, 2012

Quwwah



Dipetik daripada judul Militansi, karangan KH Rahmat Abdullah



يَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا 
"Ya Yahya, ambillah kitab ini dengan bersungguh-sungguh, dan berikanlah kepadanya hikmah"   Maryam, (19:12)


Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia 
tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus 
mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan. 


Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguhsungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. 


Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan 
angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad. 


Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh 
karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan 
baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”. 


Ayyuhal ikhwah rahimakumullah, 


Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggitingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. 


Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka 
tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat.  


Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i  harus sungguh-sungguh dan 
sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini  tidak bisa dijalani dengan 
ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit. 


Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, 
sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenakenaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut. 


Ayyuhal ikhwah rahimakumullah, 


Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang 
yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. 
Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi 
cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka. 
Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga  boleh jadi biografi kita kelak 
hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan  kita : “Si Fulan lahir tanggal 
sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”. 


Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para 
sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun.  Satu rentang usia yang tidak 
terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari 
berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi 
kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya. 


Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan 
hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di 
jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak 
kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar 
kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah 
(kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita  mudah berkata hal-hal yang 
membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita 
bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa 
jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan 
pengikut-pengikutnya. 


Ayyuhal ikhwah rahimakumullah, 


Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan 
azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta. 

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian 
dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan 
mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri.  

Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada 
kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang  lahir di keluarga sederhana, 
namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang 
berilmu, kaya dan seterusnya. 

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di 
sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh 
derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

MA
T.Intan,
*Tanpa Quwwah, tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah. Allahu Rabbi....


Wednesday, May 23, 2012

Hilang



Manusia sering merasakan takut, seandainya dia hilang sesuatu yang dirasakan berharga.

Takut, seandainya masa depan tidak secantik biasa.

Sedih, kerana hilang satu "kesenangan" atau ni'mat.

Tapi semua ini saya kira adalah bisik-bisik Sang Syaitan.

Kerana apa yang kita ada in the first place untuk hilang?

Pernah kah kita ini memiliki untuk merungut kehilangan?

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ
Wahai Manusia, kamu-lah yang Faqir kepada Allah(tidak ada apa2, dan berhajat untuk pelbagai perkara), dan Allah-itulah yang Maha Kaya(Tidak berhajat pada apa2), dan dia Maha Terpuji
Al-Fatir, 35:15

Umpamanya, seorang anak kecil yang menangis kerana patung permainan yang bukan milknya diambil semula oleh tuan patung itu. Kita pasti akan terlintas, oh, budak-budak zaman sekarang.. tak dapat apa mesti nak nangis...

Tapi itu-lah kita sebenarnya!

Tatkala hilang kejayaan yang bukan pun milik kita. Kita menangis?!
Tatkala hilang barang yang berharga. Kita resah dan gelisah?!
Tatkala sudah tidak lagi mendapat duit elaun misalannya. Kita menjadi huru-hara!!

Sedangkan, in the first place, semua tu bukan milik kita pun.

Kita asyik meminta dan mahukan macam-macam dalam dunia ni.
Sedangkan tak sedar, semua tu, bukan milik kita pun. Dan sangatlah pelik untuk kita berasa marah/sedih seandainya kita tidak memperoleh sesuatu yang bukan milik kita.

Firman Allah SWT lagi:
 وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا
وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ 
ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا
dan sesiapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya)Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan (Ingatlah), sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.
At-Talaq, 65:2-3


Maka atas sebab apa kita merasakan hilang ataupun tidak mendapat sesuatu itu sebagai masalah?

Sedangkan Dia sudah punya perancangannya tersendiri untuk kita.

HasbunaAllahu wa ni'mal wakeel

Ya Allah, biarlah hati ini merasa cukup dengan adanya Engkau didalamnya. Biarlah jiwa ini merasa tenang dan gembira dengan tahunya aku, nanti disana aku akan dapat melihat-Mu.
Aamin

Wallahua'lam

MA
London


Tuesday, May 15, 2012

Bergaduh...?


Selalu bergaduh tak..?

Tak kisah la bergaduh dengan siapa, dengan adik ke,
"Eh, ni kerusi abang. bangun², jangan kacau abang duduk buat kerja!"
"Hey..! Ni buku kerja sekolah abang la! kenapa adik lukis gambar rama²?"

Ataupun dengan kawan-kawan serumah:
"issh... kau ni, makan bukan nak basuh pinggan mangkuk. Plisss laa.."
"Hello... kacak dan jelitanya kau, makan sampai habis semua lauk yang ada dalam rumah ni."

Erk... Tak tarbawi ek pergaduhan ni? Okok, tukar sikit...

Bergaduh dengan anak usrah...
"Astaghfirullah.. Man.. aku dah cuba sedaya upaya man untuk tahan marah.. tapi bila kau berkelakuan macam ni, aku rasa kesal dan kecewa man.. Kau sepatutnya jadi lagi matang, ......"
"Erk.. ponteng usrah pulak dia.. Bila tanya.. macam-macam alasan keluar.. tegur, mesti berjawab.. susahnye nak bentuk dia....Ish.. tak tau nak buat apa dah ni..."

Bergaduh dengan usrah-mate....
"eee... si X ni.. tak pernah nak bekorban.. asyik² tunggu khidmat orang lain je.. Kalau dia ingat dia susah, orang lain pun susah kot! takkan la menerima je...! Mad'u kat luar sana banyak kut nakkan tarbiyyah, dia dok rilek je.... huhu.. istighfar².."
"Astaghfirullah... Dah seminggu aku tengok kau ni tak join halaqah... anak usrah kau pun, macam dah tak terjaga tarbiyyah diorang.. bila orang tanya kau marah².. kau ok tak ni sebenarnya?"

Ataupun, bergaduh dengan sesiapa sahaja.

Apa perasaan bila kita bergaduh? Marah? Rasa macam nak pukul dengan kayu/besiGeram?Apa lagi..?Tak tahan? Nak meletup?

Haa... mesti anda akan ingat macam...
"Ish.. mesti nak highlight point sabar, point kena beralah, point blablabla.. "

Hihi.. Tak, kali ni nak ajak kita sama-sama menyoroti kisah Nabi Yusuf....

Boleh rujuk surah Yusuf, dan baca dari awal sampai la ke ayat 100... Huhu.. panjang sikit la tapi, meh saya ringkaskan...(tapi kalau nak betul2 feeling memang kena baca full story la ekk... )

1-Adik beradik Nabi Yusuf nak ''hilang''kan Nabi yusuf sebab jeles Nabi Yaakub(Ayah mereka) lebih sayangkan Nabi Yusuf.
(Ha, sape yang selalu jeles dengan Naqib bahagi kasih sayang tak adil, mak ayah tak adil semua tu, sila muhasabah sekarang. Adakah anda sedang menjadi adik-beradik yusuf???)  T___T

2-Mereka meninggalkan Nabi Yusuf di sumur setelah berjaya meyakinkan Nabi Yaakub mereka akan menjaga Yusuf baik².. Tapi bila diorang balik tanpa Yusuf, dan hanya bawak baju yang ada darah palsu, dan lakonan menangis ala-ala tacing konon sedih Yusuf dimakan serigala. Nabi Yaakub dah dapat rasa diorang tipu.. Tapi apa Nabi Yaakub cakap...?

"Fasabrun Jamil.. Wallahu musta'anu ala ma tasifun.."
"Dan hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku.. dan pada Allah-lah dimohon pertolonganNya atas apa yang kamu ceritakan..." Yusuf, (12:18)


3-Masa berlalu.. dan sekarang Nabi Yusuf dah jadi bendahara Mesir.. sebelum tu dia telah dibeli menjadi hamba, dah kena fitnah, lepas tu masuk penjara lagi...

4-adik-beradik dia datang untuk meminta bantuan makanan dalam musim kemarau... Tapi tak tau Bendahara Mesir ni, adalah Nabi Yusuf.. Bila Nabi yusuf reveal, dan bawak Nabi Yaakub semua ke istana balik, apa kata Nabi Yusuf..? Apa agak-agak, kata orang yang telah dianiaya sedemikian lama? Baginda berkata:
وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِىٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ  أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ بَيۡنِى وَبَيۡنَ إِخۡوَتِىٓ‌ۚ إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ۬ لِّمَا يَشَآءُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ "

"....Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah syaitan merusakkan [hubungan] antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(Yusuf, 12:100)


Ha.. Nampak tak...????

Masalah sebenar bila jadi masalah ukhuwah tu, ialah....
---->SYAITAN YANG MEROSAKKAN HUBUNGAN ANTARA KITA DAN ORANG LAIN<---
Yang jadi problem nya, syaitan lah! Dia lah yang dok cucuk itu tak kena, ini tak kena.. Dengki, jeles, geram, tak puas hati, nak lebih, tak nak beralah, kenapa dia tak buat lebih, asyik aku je kena bekorban, dia ni tahu komen je kerja taknak buat, dia ego!, dia blablablablabla....

Problem paling akar dia, SYAITAAANNNNN!!

Ee.. geram betul dengan syaitan. Suka rosakkan hubungan orang. Eeee!!

=)

Nampak tak...?

Bila anda bergaduh, ingatkan diri anda, ini adalah sebahagian daripada plot si syaitan. Memang dia nak anda rasa tak puas hati, dia nak anda bergaduh, rosak ukhuwah semua. Walhal, benda simple je...!!

Bila anda rasa marah semua, ingatkan diri anda, bukan orang tu yang bermasalah, tapi syaitan yang merosakkan hubungan antum..!!

Tengok cara pandang Nabi Yusuf.. dia tak pernah menyalahkan adik-beradik dia.. Dia tak kata setelah adik-beradikku meninggalkan aku.. Dia tak kata adik-beradikku tak berperikemanusian.. dia tak kata adik-beradikku tak considerate.. Dia tak kata semua ni.. Tapi, apa yang dia cakap..? Syaitan. Syaitan. Syaitan..!!!

Bila kita sedar, segala masalah yang terjadi, yang problem nya ialah Syaitan, maka kita akan sedar yang perasaan marah tu tak sesuai. Perasaan geram tu tak patut. Sebab diorang tu mangsa hasutan syaitan! Mangsa si penipu! Maka akan tumbuh rasa sayang... akan tumbuh rasa kasihan.. akan tumbuh rasa cinta...

Kalaulah mereka mengerti, pasti tak akan jadi macam tu.

Kalaulah mereka tak tertipu dengan syaitan, mesti tak akan ada perangai macam tu.

Maka seluruh tubuh kita akan dikuasai oleh perasaan nak tolong. Nak bantu. Nak tunjuk kebenaran. Sayang! Sayang! Sayang! Nak tarbiyyah! Nak didik mereka!!

Sebab kita nak beri mereka kekuatan, untuk melawan Syaitan.

Jadi lain kali anda rasa marah dengan orang...

Pesan Saidina Umar:
"Janganlah membantu Syaitan untuk menjatuhkan temanmu. Tapi bantulah temanmu untuk menjatuhkan syaitan"

Ingat perasaan Nabi Yusuf. Ingat syaitan ni jahat.
=)

Wallahua'lam

MA
London


Sunday, May 13, 2012

Mereka, dan kita



Syurga adalah balasan daripada Allah SWT. Balasan bagi mereka yang menginfaqkan seluruh hidup mereka untuk Allah. Dan kita mengharapkan untuk sama-sama layak mendapat balasan yang serupa.

Tetapi mereka itu, benar-benar menginfaqkan seluruh hidup mereka untuk perjuangan...!

Mereka itu, benar-benar merindukan syahid dalam berjuang untuk agama Allah...!

Dan mereka itu juga, setiap kali jatuh dan diuji, sentiasa bingkas bangun untuk kesekian kalinya, kerana mereka yakin, perjuangan ini adalah perjuangan mereka, dan akan ada hanya dua kesudahan daripadanya, syahid, atau menang..!

Saksikanlah....



Inilah mereka...

Mengimpikan pembebasan Jerusalem...

Mendambakan kemenangan Islam, penegakan Khalifah...

Merasai hakikat dan erti kehidupan yang sebenar...

Hidup dalam perjuangan...



Dan kita.....?

Masih lagi dalam kegelapan, meraba-raba halatuju, masih dengan masalah emosi yang tidak menentu..

Masih lagi rakus dengan nafsu, menginginkan kepuasan yang tidak kenal erti cukup..

Masih lagi tidak sanggup bekorban, masih lagi mementingkan diri sendiri, masih lagi sombong, ego dengan Allah yang Maha Esa...

Masih lagi bermaksiat kepadaNya...

Masih lagi fasik, sambil menyorok-nyorokkan kefasikan.. Bermain-main dan memperolokkan Allah.. kononnya Dia tidak tahu setiap isi hati..

Masih lagi berat untuk berubah, masih tidak sanggup merendahkan ego..



Dan kita mendakwa kita ingin ke syurga yang sama?

Firman Allah:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan [begitu saja], sedang Allah belum mengetahui [dalam kenyataan] orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(At-Taubah, 9:16)

Andai kita diukur.. apakah kita akan masuk dalam kalangan manusia yang benar-benar berjihad..? Atau sekadar penumpang dalam agama ini? Atau sekadar pemerhati? Atau sekadar munafik? Dan sekiranya kita tidak diiktiraf... kemana lagi akan kita pergi?

Sesungguhnya Allah sahajalah yang dapat memimpin seseorang yang sesat kembali ke jalan yang lurus...

Dan moga Dia tidak mengenepikan, mengusir aku, kamu dan kita semua daripada kelompok manusia yang berada dalam rahmat dan keredhaanNya..


Wallahua'lam

London


**Kalau 5 tahun yang lalu kita bercakap tentang pembebasan Palestina, pasti sahaja kita merasakan ianya suatu yang sangat jauh dan hanya akan menjadi cita-cita dan harapan semata-mata. tapi kuasa Allah SWT, pada hari ini, andai sahaja Israel melihat roh jihad mereka ini, pasti terlintas dalam fikiran mereka, "mimpi buruk itu sudah tiba".

Membentuk Individu untuk ummat yang padu!

Sunday, April 29, 2012

Back to Basics



Apabila manusia bertanya, kemanakah kita ingin membawa dakwah kita ini, maka pantas kita akan mampu menjawab, kita ingin mengembalikan manusia seluruhnya kepada Allah. Lantas persoalan yang paling asas akan terpacul keluar, sudahkah kita sendiri mampir kepada Allah Azza wa Jalla?

Kita terpekik dan terlolong menyeru manusia untuk memperlengkapkan diri mereka dengan tarbiyyah, kerana dakwa kita, tarbiyyah lah jalannya untuk mengembalikan Islam pada tempatnya. Maka kita pun mencanang-canangkan matlamat kita, mengislahkan seluruh jiwa manusia, semata-mata untuk meletakkan Islam kembali di tempatnya. Tapi persoalan asas, apakah kita sendiri mewajibkan diri kita dengan tarbiyyah?

Ini perkara asas. Tentang hubungan dengan Allah. Tentang tahap obses kita dengan Nya. Kita tidak mahu mengumpul robot-robot dakwah, yang sgt hebat kata-kata dan usaha dakwahnya, tapi apabila datang kepada soal hubungan dengan Allah, longlai. Lesu.

Jangan tersalah anggap, bukanlah bermaksud kita ingin melahirkan rahib yang asyik bercucuran air matanya. Tidak, kita bukan ingin melahirkan orang yang asyik beribadah di atas tikar sembahyang. Kita ingin lahirkan singa dan pahlawan. Tapi bukan sebarang singa dan pahlawan, sebaliknya singa dan pahlawan yang rendah diri, tunduk dan takut kepada Allah SWT, tidak sanggup bersenang dan berehat tatkala dia dan penciptanya belum berhubung. Kita ingin lahirkan penggerak yang merupakan hasil tarbiyyah, yang terserlah kekuatan ruhiyyahnya, dek teramat rapat hubungannya dengan Allah.

Ya, yang kita inginkan ialah Seorang Pahlawan di siang hari, tapi dimalamnya dia bertukar menjadi rahib yang tidak senang tidur tanpa tahajjud dan air mata. Pahlawan yang gagah dan tidak gentar dengan mana-mana musuh, tapi pada malamnya seolah anak kecil yang teresak-esak menangis mengenangkan dosa yang yang baginya bertimbun.

Apakah ciri ini terlampau ideal dan mustahil...????

Orang yang berkata sedemikian rupa, seolah berkata untuk Islam kembali mentadbir alam adalah sesuatu yang mustahil. Orang yang merasakan produk sedemikian tidak boleh dihasilkan, adalah orang yang belum melalui proses tarbiyyah yang asli. Kerana produk tarbiyyah, adalah singa yang amat ganas disiangnya, tapi malamnya diisi dengan tangisan sayu dan air mata. Dengan rijal sebeginilah, baru kita akan dapat menunjukkan kepada seluruh dunia, apakah manhaj Islam sebenar. Kerana produk seperti ini amat istimewa, amat dahsyat. Dengan produk seperti inilah baru kita mampu untuk melaksanakan projek mega dan rancangan besar kita. Untuk mendapatkan Ustadziatul Alam!

Orang yang mewajibkan dirinya dengan aktiviti dakwah, yang rancak dengan metodologi dan teori dakwahnya, yang hebat dalam usrahnya, tersusun program da'winya, tetapi apabila datang soal hubungan dengan Allah, soal qiyamulail, soal tilawatul Quran, dia lesu, maka dia tidak sejahtera pembentukannya..!!

Orang yang mewajibkan dirinya pada tilawah, tadarus, qiyam dan puasa, tapi apabila datang soal DF, soal pengorbanan masa dan tenaga, soal berfikir tentang mutarabbinya, tentang halaqah, usrah dan program tarbiah, dia berasa malas dan tidak berminat, maka dia juga tidak sejahtera pembentukannya..!!

Jadi ayuh ikhwati fillah.

Perkemaskan tarbiyyah diri kita. Sempurnakan muwasofat kita. Kerana ini semua adalah pembantu kita dalam menanggung bebanan dakwah yang sangat besar ini. Kita bukan ingin menjadi orang yang biasa-biasa. Sebaliknya kita ingin menjadi orang yang luar biasa. Orang yang bukan sahaja mampu menyala-nyala dalam arena da'winya, tapi juga bekobar dalam tarbawinya.

Wallahua'lam

MA,
London

Monday, April 16, 2012

Sekeping Memori



Usia.
Semakin panjang, semakin banyak memori yang ditinggalkan.

Dan sungguh aku bersyukur
Dalam sujudku yang tak seberapa
Sungguh aku terlalu amat menghargai
Pengalaman yang Kau susunkan untukku
Dalam perjalanan di negara yang bakal kutinggalkan ini

Oh, mustahil rasanya untuk dilenyapkan pengalaman dan kenangan ini
Terasa seolah dari 'kecil' hingga 'kini', inilah kota yang menjadi saksi
Tarbiyyah Illahi yang mendidikku
Menghargai, Bersabar, Berani, Bekorban, Kasih-Sayang

Tuhan, aku merayu agar tarbiyah ini kekal
Hatiku pula senantiasa condong ke arahMu
Tidak sekali ia mengeras dan membatu
Dari menerima titipan cahaya

Ya Rabbi
Aku bakal melangkah meninggalkan bumi yang penuh memori ini
Entah kenapa, sebaknya sukar dibayang kata-kata
Kerana apa yang pernah berlaku disini, hanya Engkau peneman setia
Duka lara, bahagia gembira
Tiada kalimah yang sesuai menceritkan liku perjalananku disini

Moga bumi ini menjadi saksi
dan segala makhluk diatasnya
Rerumput, pepohon, kawanan burung
Semuanya mendoakan
Agar aku mampu tsabat
Biarpun di bumi yang lain

Aku serahkan seluruh jiwaku untukMu
Dan aku serahkan seluruh kehidupanku untukMu
Dalam penuh pengharapan

"Jazaa uhum indarabbihim Jannatu Adnin Tajri min Tahtihal Anhar... Khalidinafiha.. Rodhi Allahu anhum wa Rodhu An.. Zalika liman Khoshi Ya Rabbah"

Aamin.

MA,
Germany

Friday, April 13, 2012

Menjadi Ghuraba'



Ar-Rasul dan Para sahabat, pada era permulaan dakwah, mendapat tentangan yang tidak putus-putus. Ada sahaja yang mengejek, mengeji, menghina dan mencerca mereka. Ada yang diseksa, hinggakan ada yang syahid dalam mempertahankan aqidahnya.

Mereka pada waktu itu, adalah ghuraba'. Asing. Berbeza sekali dengan yang lainnya.

Hidup mereka berbeza dengan hidup manusia lain. Matlamat mereka berbeza. Cara mereka menjalani kehidupan mereka berbeza. Cara mereka bergaul berbeza. Cara mereka bekerja berbeza. Pendek kata, semuanya berbeza, lagaknya umpama harimau belang disekalikan dengan sang singa. walau dari jauh, sudah cukup untuk teserlah perbezaannya.

Pasti terpacul persoalan, bagaimana perbezaan ini boleh berlaku selepas keislaman. Sedangkan, sebelum datangnya Islam, mereka sama sahaja. Sama-sama menanam anak perempuan. Sama-sama meminum arak. Sama-sama mengamalkan riba', sama-sama menyembah berhala. Tapi meresapnya iman dalam jiwa musabiqun al-awwalun(golongan² awal) ini, telah menukar secara total, dari kepercayaan, pemikiran, hinggalah kepada perilaku mereka. (rujuk analogi bola besi)



Itu kisah mereka. Kisah mereka menjadi berbeza daripada sekeliling. Kisah mereka melawan arus, menolak keinginan sendiri semata-mata untuk menjadi seperti yang dimaksudkan Al-Quran. Mereka tidak lagi menjadi orang yang mengikut atas sebab ingin ''bersama'' majoriti. Mereka bukan jenis pengecut yang takut kalau orang lain tidak boleh menerima mereka. Mereka adalah ghuraba' yang berani dan jelas dengan pendirian sendiri.

Bagaimana pula kisah kita? Sudahkah kita menjadi ghuraba'?

Atau kita ini, hanyalah orang yang mengikut-ikut sahaja. Hanya orang yang tidak mahu menjadi berbeza, takut dipandang pelik, tidak mahu ditinggalkan sahabat dan teman. Kita tidak bertindak berdasarkan kefahaman. Kita tidak mempunyai reaksi. Tidak mempunyai pendapat. Yang ada, hanya perasaan dan pendapat orang lain.

Adakah setelah sampainya kefahaman dan kesedaran Islam itu, kita berani untuk tampil ke hadapan, mengambil segala risiko, melawan segala kemungkinan, dan akhirnya kita pun terus membuat keputusan dan melangkah ke hadapan.

Adakah apabila kita sedar, ummat pada hari ini tenat, maka kita bersedia menjadi ''doktor''nya.
Terus kita tawarkan ''rawatan'' buat pesakitnya. Kitalah yang perlu mencari ''pesakit'' ini, dan memberi ''ubatan'' yang sesuai dengannya. Kita lah yang perlu mewujudkan kesedaran pada masyarakat, ''penyakit'' ini boleh diubati, dan caranya ada dengan kita. Kita lah yang perlu lakukan semua ini, apabila kita sedar dan faham kewajipan yang ada pada kalimah syahadah yang kita agungkan.

Dan apabila kesedaran ini timbul, maka segala alasan penerimaan orang lain, pandangan dan skeptik, segala ragu-ragu yang pernah wujud, semuanya akan lesap, semuanya akan ditelan dan dicincang habis sehingga hilang. Kerana perasaan tanggungjawab itu jauh lebih besar daripada segala yang lain.

Sungguh, Islam itu datang dalam keadaan yang Asing.
Dan akan kembali dalam keadaan yang Asing.
Maka beruntunglah orang² yang Asing.

Jom! Jangan tunggu² lagi! Mulakan langkahmu sekarang!